BRMP Sulteng Dampingi Direktorat Perlindungan Hortikultura Identifikasi Gangguan Produksi Durian
Palu, 28 Agustus 2026. Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tengah mendampingi kunjungan lapang Direktorat Perlindungan Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian dalam rangka memonitor dan mengidentifikasi kondisi pertanaman durian di Sulawesi Tengah. Kegiatan yang dipimpin langsung Direktur Perlindungan Hortikultura, Dr. Leli Nuryaiti, M.Sc., tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperdalam informasi terkait penurunan produksi dan berbagai gangguan yang memengaruhi produktivitas durian di sejumlah sentra produksi.
Kunjungan diawali dengan koordinasi bersama Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah. Koordinasi dilakukan untuk memperoleh gambaran awal mengenai perkembangan pertanaman durian, kondisi produksi, serta berbagai permasalahan yang disampaikan oleh petani. Hasil koordinasi kemudian menjadi bahan untuk menentukan langkah identifikasi lebih lanjut melalui kunjungan langsung ke lokasi sentra durian.
Identifikasi lapangan dilakukan pada dua wilayah sentra durian, yaitu Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso. Di Kabupaten Parigi Moutong, tim melakukan pertemuan bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Kehutanan, kemudian melanjutkan kegiatan monitoring pertanaman durian di Desa Beraban, Kecamatan Balinggi. Tim melakukan pengamatan terhadap kondisi tanaman dan lingkungan pertanaman serta menggali informasi dari petani terkait perkembangan produksi dan berbagai gangguan yang mereka hadapi selama proses budidaya.
Kegiatan serupa dilanjutkan di Kabupaten Poso. Tim melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Poso serta berdialog langsung dengan petani durian di Desa Taunca, Kecamatan Poso Pesisir. Pada lokasi tersebut, tim melakukan pengamatan terhadap kondisi pertanaman sekaligus menggali informasi mengenai perubahan produktivitas, kondisi tanaman, dan faktor-faktor yang diduga berkaitan dengan gangguan produksi yang terjadi di tingkat petani.
Kegiatan identifikasi dilakukan secara langsung di sentra produksi agar informasi yang diperoleh tidak hanya berasal dari laporan administratif, tetapi juga dapat dibandingkan dengan kondisi faktual di lapangan. Pengamatan terhadap tanaman, lingkungan pertanaman, pola produksi, serta informasi dari petani menjadi bagian penting dalam proses pendalaman untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai permasalahan yang terjadi.
Kepala BRMP Sulawesi Tengah, Dr. Ruslan Boy, S.P., M.Si., menyampaikan bahwa keterlibatan BRMP dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah dalam memperoleh informasi teknis dan kondisi aktual pertanaman durian di Sulawesi Tengah. Menurutnya, identifikasi lapangan diperlukan untuk memastikan setiap permasalahan yang dihadapi petani dapat dipahami secara komprehensif sehingga langkah penanganan dan pendampingan dapat dilakukan berdasarkan kondisi nyata.
“Pengamatan langsung di lapangan menjadi penting untuk melihat kondisi tanaman secara utuh dan memperoleh informasi dari petani. Data dan temuan lapangan selanjutnya dapat menjadi bahan dalam menentukan langkah tindak lanjut yang tepat,” ujarnya.
Sementara itu, Tim Direktorat Perlindungan Hortikultura yang dipimpin langsung oleh Direktur Perlindungan Hortikultura, Dr. Leli Nuryaiti, M.Sc., melakukan pemantauan terhadap kondisi pertanaman serta berdiskusi dengan pemerintah daerah dan petani. Pendekatan lapangan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai faktor-faktor yang berkaitan dengan penurunan dan gangguan produksi durian di sentra-sentra utama Sulawesi Tengah.
Kegiatan ini juga melibatkan berbagai unsur lintas institusi, antara lain Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Sulawesi Tengah, akademisi Universitas Tadulako dan Universitas Alkhairaat Palu, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Sulawesi Tengah, serta Asosiasi Kebun Durian Indonesia (AKDI). Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan bahwa persoalan produktivitas komoditas durian memerlukan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif.
Selain melakukan pengamatan, tim juga menggali pengalaman dan informasi langsung dari petani mengenai perkembangan produksi di kebun. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam memahami kondisi di tingkat lapangan, termasuk perubahan produktivitas, kondisi tanaman, serta berbagai faktor lingkungan dan teknis budidaya yang berpotensi memengaruhi produksi.
Hasil monitoring dan identifikasi di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso selanjutnya diharapkan dapat menjadi bahan untuk pendalaman dan kajian lebih lanjut dalam menentukan langkah penanganan yang tepat. Dengan pendekatan berbasis data dan kondisi aktual, upaya perlindungan tanaman dan pengembangan durian di Sulawesi Tengah diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah tanpa mengabaikan kepentingan petani dan keberlanjutan usaha komoditas durian.
Penulis: Nurmasita Ismail
Editor: Hamka Biolan