Wujudkan Petani Naik Kelas, Kementan dan DPR RI Dorong Hilirisasi Pertanian di Tojo Una-Una
Tojo Una-Una, 14 Oktober 2026. Langkah transformasi pertanian dari sekadar budidaya bahan mentah menuju industri pengolahan bernilai tinggi (hilirisasi) terus digaungkan secara masif. Semangat ini menjadi sorotan utama dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Inovasi dan Hilirisasi Produk Pertanian yang digelar di Balai Pertemuan Desa Marowo, Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-Una, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan strategis ini dihadiri langsung oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Ellen Esther Pelealu, S.E. Turut hadir memperkuat sinergi, anggota DPRD Sulawesi Tengah Royke W. Kaloh, SE., M.Si. Sekretaris Daerah Kabupaten mewakili Bupati Tojo Una-Una, Alfian Matajeng, S.Pd., M.A.P., Kepala BBPMKP Ciawi mewakili Kepala BPPSDMP Kementan, Sukim Supandi, S.Sos., M.M., Direktur Wilayah BRMP Sulawesi Tengah Dr. Ruslan Boy, S.P., M.Si., serta Kadis Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Touna Ir. Albar Amir, S.T., M.T.
Kehadiran peserta yang terdiri dari para penyuluh pertanian dan petani kooperator ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam menaikkan taraf hidup pahlawan pangan daerah.
Dalam pemaparannya, Anggota Komisi IV DPR RI, Ellen Esther Pelealu, menegaskan bahwa langkah hilirisasi sangat sejalan dengan Asta Cita Presiden untuk mewujudkan swasembada pangan. Menurutnya, hilirisasi akan mendorong petani untuk mampu mengolah produk mentah menjadi produk jadi, sehingga nilai jualnya meningkat tajam.
"Pemerintah dan DPR RI tidak akan tinggal diam. Kita terus berupaya memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan penyuluh yang merupakan ujung tombak pembangunan pertanian kita. Maka dari itu, penyuluh harus makin inovatif agar dapat mendampingi dan membantu petani dalam menyelesaikan setiap permasalahan di lahan," tegas Ellen di hadapan para peserta.
Senada dengan visi tersebut, Kepala BBPMKP Ciawi, Sukim Supandi, menyoroti pentingnya pergeseran pola pikir (mindset) di kalangan petani. "Fokus kita saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan kuantitas produksi, tetapi juga menaikkan nilai jual, menjaga kualitas, dan memperbaiki manajemen usaha tani. Petani harus didorong naik kelas, bukan hanya sebagai produsen bahan mentah, tetapi sebagai pelaku usaha (agripreneur) yang mandiri. Harapannya, pemahaman ini tidak berhenti hanya sebatas di ruang Bimtek, melainkan harus segera bertransformasi menjadi aksi nyata di lapangan," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una pun menyambut inisiatif ini dengan antusias. Melalui Sekda Alfian Matajeng, Pemkab menyatakan komitmen keterbukaannya untuk terus berkolaborasi. "Kami selalu terbuka membangun dan memajukan ekosistem pertanian di Touna. Kami ingin memastikan hasil pembangunan ini benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat, terutama masyarakat tani. Semoga kegiatan ini menghasilkan aspirasi, rekomendasi, dan hasil nyata untuk kemajuan kesejahteraan bersama," harap Alfian.
Sementara itu, Kepala BRMP Sulawesi Tengah, Dr. Ruslan Boy, menegaskan bahwa dengan adanya inovasi hilirisasi, hasil panen yang berlimpah tidak akan terbuang percuma atau anjlok harganya saat panen raya, melainkan bisa diolah menjadi produk turunan yang memiliki masa simpan lebih lama dan berdaya saing tinggi di pasar.
Menutup arahannya, ia terus memompa semangat para penyuluh untuk saling bergandeng tangan. "Kita harus sama-sama mendampingi dan mengawal pembangunan pertanian di Sulawesi Tengah. Konsistensi fungsi dan peran penyuluh pertanian sebagai fasilitator dalam inovasi dan hilirisasi, serta kerja sama antar-instansi terkait demi menyukseskan program-program strategis Kementerian Pertanian, harus tetap berjalan dengan baik," pungkasnya.
Penulis: Fitriani Nani
Editor: Naufal Mahdi Rameda