Panen Raya Jadi Momentum: BRMP Sulteng Dukung Lapas Perempuan Palu Cetak Warga Binaan Mandiri
Sigi, 5 Mei 2026. Pendekatan pembinaan berbasis kemandirian semakin diperkuat melalui sektor pertanian. Hal ini tercermin dalam kegiatan panen raya dan penebaran benih ikan yang dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Palu, Selasa (5/5), dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tengah turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, diwakili oleh Ketua Kelompok Substansi Penerapan dan Penilaian Kesesuaian, Dr. Herawati, S.P., M.Si., bersama Ketua Tim Kerja Pengelolaan Kerja Sama, Layanan, dan Kesesuaian.
Kegiatan ini tidak berdiri sendiri. Kehadiran Kepala Lapas Perempuan Palu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sulawesi Tengah, perwakilan Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Sigi, pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga masyarakat sekitar menunjukkan bahwa program pembinaan di Lapas telah berkembang menjadi ekosistem kolaboratif lintas sektor.
Rangkaian kegiatan meliputi penebaran benih ikan nila di kolam budidaya, panen jagung manis, serta penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat sekitar. Kombinasi kegiatan ini memperlihatkan bahwa program tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang langsung dirasakan oleh masyarakat.
Dari sisi teknis, Lapas Perempuan Palu telah mengembangkan sistem pertanian yang relatif terintegrasi. Budidaya hidroponik dengan komoditas sawi dan pakcoy berjalan berdampingan dengan kolam ikan air tawar, serta pemanfaatan lahan terbuka untuk tanaman seperti daun singkong, kangkung, jagung, dan kacang panjang melalui pola tumpang sari. Model ini menunjukkan optimalisasi ruang yang adaptif terhadap keterbatasan lahan sekaligus meningkatkan diversifikasi produksi.
Secara konseptual, program pertanian di lingkungan pemasyarakatan memiliki dua fungsi utama, sebagai instrumen pembinaan keterampilan dan sebagai unit produksi. Warga binaan tidak hanya memperoleh pengetahuan praktis, tetapi juga pengalaman langsung dalam sistem budidaya yang memiliki nilai ekonomi.
Di titik ini, intervensi BRMP menjadi relevan. Peran BRMP tidak sebatas pada dukungan teknis, tetapi juga pada transfer inovasi dan pendekatan modernisasi pertanian agar kegiatan yang dijalankan memiliki standar yang lebih baik dan berkelanjutan.
Keterlibatan BRMP Sulawesi Tengah dalam kegiatan ini mencerminkan strategi kolaboratif yang lebih luas, di mana pengembangan pertanian tidak hanya difokuskan pada petani konvensional, tetapi juga menjangkau kelompok-kelompok pembinaan seperti warga binaan.
Dengan demikian, kegiatan panen raya dan penebaran benih ini tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi representasi pendekatan pembangunan pertanian yang inklusif, menggabungkan aspek produksi, pemberdayaan, dan keberlanjutan dalam satu kerangka program.
Penulis : Muh. Fajrin Utina
Editor : Hamka Biolan